Kepemimpinan Yang Bertanggungjawab: Menuju Masa Depan Keanekaragaman Hayati

// Artikel telah dibaca sebanyak kali

Sepanjang karier saya di sektor perdagangan internasional, pengem- bangan   usaha,  dan  perbankan,   salah  satu  fokus  utama  adalah bagaimana agar  modal  finansial  bisa  utuh  terjaga.  Modal  yang terkuras   habis  adalah   penyebab   utama   kebangkrutan.  Pengetahuan teknis saya di ketiga bidang tersebut adalah alat ampuh untuk mencegah penipisan modal dan membantu  perusahaan tumbuh.

Sekarang, ketika menjabat Country Director The Nature Conservancy (TNC)-Program  Indonesia, prinsip utamanya  sama, tetapi berlaku  pada  skala yang jauh lebih besar. Dengan kata lain, jika modal alam kita habis, seluruh


basis  ekonomi  dan  sumber  penghidupan kita terancam.  Sebagaimana dikatakan  oleh  mantan  Menteri  Lingkungan  Hidup, Emil Salim, satu- satunya  cara untuk menghentikan bencana di depan  mata adalah “mengubah  visi pembangunan agar  sesuai... Baru sekarang  kita meli- hat sumber daya alam yang rusak parah sebagai  hambatan.  Masalah ini tidak hanya perlu diperhatikan, tapi juga sudah mengancam hidup kita.”

 

The Nature  Conservancy  bangga  bermisi mengatasi  masalah  tersebut melalui solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk mewujudkan pembangu- nan berkelanjutan.  TNC adalah organisasi terdepan dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan dan  sarana  bisnis  untuk  menunjukkan   bagaimana strategi konservasi bisa menyediakan solusi efektif atas tantangan global utama, seperti ketahanan pangan  dan air, mitigasi dan adaptasi  peruba- han iklim, serta pengurangan risiko bencana.

 

Dengan  demikian,  kami menawarkan pendekatan dan  sarana  praktis yang memungkinkan  dilakukannya pemanfaatan alam secara  berkelan- jutan, serta  saran  yang dipandu  ilmu pengetahuan dalam  berinvestasi pada  alam sebagai  penyedia solusi, kepada  pemimpin di pemerintahan, masyarakat, dan dunia usaha. Melalui cara ini, pembuat kebijakan, sektor usaha, dan pemangku  kepentingan lainnya bisa menerapkan kepemim- pinan  yang bertanggung jawab demi masa  depan  yang berkelanjutan lewat konservasi dan investasi pada modal alam di Indonesia.

 

Kepemimpinan    yang    bertanggung   jawab    diperlukan untuk  memutus  siklus kemiskinan, ketidaksetaraan, polu- si,  tergerusnya   sumber   daya  alam,  dan   konflik  sosial. Dalam   artikel   bisnis   dan   lingkungan   hidup   berjudul “Beyond Greening: Strategies for a Sustainable World” yang dimuat di Harvard Business Review tahun 1997, Stuart Hart berpendapat bahwa dampak negatif sistem ekonomi global adalah akibat bentrokan berbagai sistem ekonomi dunia. Sistem-sistem  tersebut  di antaranya,  ekonomi pasar  yang dominan, ekonomi kelangsungan hidup yang pada  dasar- nya adalah ekonomi pedesaan dengan  prinsip hanya seka- dar bertahan  hidup, dan ekonomi alam.

 

Ekonomi alam penting keberadaannya bagi ekonomi pasar maupun  ekonomi  kelangsungan hidup.  Namun  nyatanya, modal alam yang menjadi dasar  sumber  daya terbarukan maupun  tak  terbarukan   berkurang   dengan   cepat.  Kare- na  sektor  usahalah   yang  menghasilkan   teknologi  peng- gerak ekonomi, Hart berpendapat bahwa perusahaan- perusahaan harus mengambil peran sebagai  pemimpin menuju keberlanjutan melalui penerapan strategi lingkungan terpadu     yang    bukan     hanya     memasarkan    produk, tetapi juga mengedukasi konsumen tentang tanggung jawab lingkungan. Demikian pula pembuat  kebijakan pemerintah. Mereka harus  memimpin dengan  kebijakan publik inovatif yang mengarah  pada keberlanjutan.

 

Indonesia Kaya Keanekaragaman Hayati

Indonesia adalah salah satu negara dengan warisan keanekaragaman hayati terkaya  di dunia. Oleh sebab  itu, Indonesia akan rugi besar jika sampai terjebak dalam ske- nario dampak  pembangunan. Kepulauan Indonesia  terdiri atas  lebih dari 10.000 pulau  dan  merupakan rumah  bagi kawasan  hutan  tropis  terbesar   ketiga  di  dunia.  Indone- sia  memiliki  spesies   mamalia  terbanyak   di  dunia,  dan spesies  ikan kedua  terbanyak  setelah  Australia. Indonesia menempati   urutan   keempat   spesies   burung   terbanyak.

 

di dunia dengan  total 1.539 spesies.  Hutan Indonesia menaungi  lebih dari 25.000 spesies  tumbuhan  berbunga, kedua terbanyak setelah Amazon. Selain itu, banyak spesies flora dan fauna endemis yang hidup di Indonesia.

Artinya, mereka tidak bisa ditemukan di negara-negara lain
di dunia sehingga  nilainya semakin berharga.

 

Ancaman tehadap Keanekaragaman Hayati

Sayangnya,  72 persen  dari  tutupan  hutan  asli Indonesia telah hilang. Dengan laju deforestasi  yang begitu tinggi, In- donesia  menjadi penghasil  emisi gas rumah kaca terbesar keempat  di dunia  setelah  Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Laju deforestasi  yang pesat  ini juga mengancam ke- beradaan spesies-spesies asli negara  ini. Indonesia memi- liki 114 spesies  burung yang sangat  terancam  punah, yang merupakan jumlah  terbesar   di  dunia.  Selain  itu, hampir sepertiga  jumlah mamalia asli Indonesia  terancam  punah, yang lagi-lagi menempatkan Indonesia  di urutan  pertama dunia. Kondisi laut Indonesia juga tidak kalah mengkhawa- tirkan. Sebagai  contoh, sekitar tiga puluh persen  terumbu karang Indonesia telah rusak akibat pemanasan global, sa- nitasi yang buruk, dan praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan.

 

Menurut   laporan  pemerintah   Indonesia   untuk  Konvensi
Keanekaragaman  Hayati tahun  2004, kondisi  keanekaragaman  hayati  Indonesia  sedang   mengalami  krisis. Seka- rang, setelah hampir 14 tahun berlalu, kondisi tersebut semakin berdampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Akan tetapi, selalu ada  peluang dalam setiap krisis.

 

Ekonomi Berbasis Pengetahuan dan  Peluang Hijau

Pada awal 1950-an, Indonesia  dengan  sumber  daya alam- nya yang berlimpah berada pada tingkat pertumbuhan ekonomi  awal  yang  setara   dengan   Korea  Selatan  yang miskin sumber  daya alam. Namun, sejak itu Korea Selatan mampu berkembang menjadi negara  industri dengan  per- tumbuhan  ekonomi  dan  teknologi  yang  maju pesat,  jauh meninggalkan  Indonesia.

 

Sama  halnya  dengan  Korea Selatan  bertahun-tahun lalu, Indonesia  bisa memprioritaskan  ekonomi berbasis  penge- tahuan yang mampu menunjang pertumbuhan ekonomi jangka  panjang.  Strategi  yang  kita pilih haruslah  mampu menekan  ketidaksetaraan penghasilan  dan melindungi keanekaragaman hayati  kita yang  unik. Kedua faktor  ini merupakan peluang  terbaik bagi masa depan  kita. Bahkan bisa membantu kita membuat lompatan ke ekonomi penge- tahuan  abad  ke-21  dan  seterusnya  melalui pemeliharaan modal alam Indonesia  serta  investasi pada  ilmu pengeta- huan dan teknologi berbasis keanekaragaman hayati.

 

Untuk mencapai hal ini, diperlukan perubahan pola pikir pe- mikiran kita sebagai  individu, sebagai  masyarakat,  sebagai pemerintah,  dan sebagai  usaha.  Dibutuhkan  suatu  revolusi mental yang mengubah konsep pembangunan lewat eksploitasi sumber daya alam menjadi pembangunan lewat penciptaan nilai sumber daya alam. Hal ini harus dilakukan melalui investasi di bidang pendidikan  serta penelitian dan pengembangan. Di sisi lain, kondisi ini juga  memberikan peluang  besar  bagi pelaku usaha  di Indonesia  untuk mu- lai mengadopsi  strategi  ‘blue ocean’ berkelanjutan  berba- sis pengetahuan yang menciptakan  keunggulan  kompetitif jangka panjang di tingkat lokal maupun global.

 

Jika Indonesia gagal memanfaatkan inisiatif tersebut, masa depannya  akan semakin suram dan lagi-lagi tertinggal dari negara  lain.

Setelah  Amerika Serikat  mundur  dari  Kesepakatan Iklim Paris  belum  lama  ini, banyak  yang  berpendapat  bahwa Tiongkok mengambil  alih posisi  Amerika Serikat  sebagai pemimpin inisiatif lingkungan  hidup global. Sementara, negara  tetangga kita, Singapura,  secara  strategis  mena- namkan  investasi  besar-besaran  untuk  menjadi  pemim- pin global di bidang  biomedis. Di Afrika, di mana  negara- negara    kekuatan    ekonomi   baru    mulai   bermunculan, Rwanda telah melangkah maju menuju negara ekonomi berbasis pengetahuan yang menjadikan ketidaksetaraan sebagai  pokok kebijakan  nasionalnya  walaupun  baru saja mengalami  konflik sipil tragis. Laporan ekstensif  yang diterbitkan   Program   Pembangunan  Perserikatan   Bang- sa-Bangsa (UNDP) membahas  rinci keunggulan  kompeti- tif yang  membuat  Amerika Latin dan  Karibia berpeluang menjadi  negara  adidaya  keanekaragaman hayati  melalui penerapan pengelolaan  berkelanjutan  keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan dalam rencana  pembangunan- nya.

 

Apabila  negara-negara tersebut   dan  negara-negara lain mampu   merubah   arah   pembangunan  dengan   demiki- an strategisnya, mengapa Indonesia tidak? Sebagaimana dikatakan  oleh  Emil Salim, “Masa  pembangunan dengan pola kapitalisme sudah berlalu, dan sekarang  harus diubah ke pembangunan ekonomi dengan  nilai sosial yang mem- perhatikan  kepentingan lingkungan hidup.”

 

Untuk   tujuan    ini,   diperlukan    suatu    perubahan   visi yang meliputi kepemimpinan dalam hal pembangunan berbasis  keanekaragaman hayati. Kita harus  bangga  akan warisan keanekaragaman hayati kita dan mengambil peran kepemimpinan  yang bertanggung jawab untuk menjadikan warisan tersebut bernilai demi keberlanjutan dan kese- jahteraan  kita serta generasi  mendatang.

 

)* Country Director The Nature Conservancy (TNC)
-Program Indonesia

POLLING

Menurut anda, klub apakah yang akan menjadi juara English Premiere League MUSIM INI?

KONTAK

Jl. Kyai Haji Abdullah Syafii No. 12
RT 012/009 Bukit Duri, Tebet Jakarta Selatan
Telepon : 021-22983630
Twitter : @surveikedaikopi
COFFEE MAKER

Sepanjang karier saya di sektor perdagangan internasional, pengem- bangan   usaha,  dan  perbankan,   salah  satu  fokus ...